Kebakaran Kendaraan di SPBU 46.77101 Jl. Mulawarman, Tarakan, Senin (9/7). Kepolisian Resor Tarakan masih menyelidiki penyebab pasti kebakaran di SPBU 46.77101 Jl. Mulawarman, Senin (9/7) sekitar pukul 18.00 Wita.
Namun dari hasil sementara olah TKP (tempat kejadian perkara), menunjukkan bahwa sumber api berasal dari bagian bawah mobil pikap Daihatsu Gran Max yang sedang mengisi BBM jenis premium.
”Asal mula api dimulai dari percikan api di bawah mobil. Di mana, diketahui tangki mobil pikap itu telah dimodifikasi sedemikian rupa, agar bisa menampung bahan bakar minyak lebih banyak,” kata Kapolres Tarakan AKBP Desman Sujaya Tarigan melalui Pjs. Kasubag Humas Ipda Sumarna kepada Radar Tarakan kemarin (10/7).
Ada dugaan mobil pikap digunakan untuk mengetap BBM. Sebab kata Sumarna, berdasarkan informasi yang diperoleh, mobil tersebut sering digunakan untuk mengisi BBM berulang-ulang. Namun pihak kepolisian masih mengembangkan kasus ini, termasuk menyelidiki penyebab pasti kebakaran tersebut, baik melalui rekaman CCTV, temuan mesin pompa di dalam mobil, maupun keterangan para saksi.
”Kami temukan sebuah mesin pompa di dalam mobil di mana fungsi pompa tersebut untuk memompa bensin yang masuk ke dalam tangki mobil,” kata Sumarna lagi.
Dugaan sementara pihak kepolisian, percikan api berasal dari pompa minyak yang saat dinyalakan menimbulkan percikan api, sehingga bensin di dalam tangki lansung tersambar.
Sumber di kepolisian juga menyampaikan, kemarin Martinus (23), petugas SPBU yang mengisi mobil pikap yang terbakar masih menjalani pemeriksaan sebagai saksi.
“Pengemudi tersebut (mobil pikap yang terbakar, Red.), kami juga masih melakukan penyidikan dan lakukan pengembangan,” kata Sumarna lagi.
Terpisah, Sales Representatif Wilayah III PT. Pertamina Tarakan, Edwin Shabriy akibat kebakaran tersebut diperkirakan nominal kerugian yang dialami PT Mitra Dharma selaku pemilik SPBU di Jl. Mulawarman tersebut mencapai ratusan juta.
“Dispenser yang terbakar merupakan Dispenser tipe 4 Nozzle merek Gilbarco, harganya paling tidak Rp 150 juta,” sebut Edwin.
Pihak Pertamina sendiri kata Edwin, tidak menerima kerugian secara materi, namun dari segi penjualan Pertamina kehilangan kesempatan untuk melakukan penjualan secara maksimal dikarenakan SPBU sempat tidak beroperasi.
“Dari Pihak Pertamina juga mengerahkan tim HSSE (Health Safety Security Environment, Red.) untuk mengecek peralatan yang ada di SPBU tersebut seperti instalasi listrik, pompa bensin dan dispenser. Hasilnya tidak ada kerusakan, selain dispenser nomor 4 yang terbakar,” kata Edwin lagi.
Dispenser yang terbakar kata Edwin, dalam minggu ini akan diganti. “Karena setelah di periksa oleh tim HSSE, memang dispenser nomor 4 sudah tidak dapat diperbaiki,” jelasnya.
Kepada Radar Tarakan, Edwin menyampaikan kemarin (10/7), Pertamina menambahkan sebanyak 30 kiloliter premium, dan 8 kiloliter solar untuk SPBU di Jl. Kusuma Bangsa, Gunung Lingkas, untuk memenuhi kebutuhan BBM warga Kota Tarakan.
Sekitar pukul 14.00 Wita siang kemarin, SPBU di Jl. Mulawarman kembali dibuka dan melayani pembelian BBM untuk masyarakat.
“SPBU Mulawarman kembali kita buka karena pipa distribusi BBM maupun jaringan listrik di pompa nomor 4 itu tidak mengalami kerusakan,” terang Edwin Shabriey kepada Radar Tarakan.
Pertamina Depo Tarakan menilai, berdasarkan pengamatan CCTV yang terpantau pada SPBU Mulawarman, insiden yang terjadi pada Senin (9/7) lalu itu disebabkan salah satu kendaraan konsumen, yaitu mobil pikap.
“Hari ini sudah diintensifikasi semua dan sudah ada hasilnya, dari kita (Pertamina) tidak menyalahkan siapa-siapa, biarlah pihak kepolisian yang menyelesaikannya,” katanya. Beruntungnya, lanjut Edwin, para petugas SPBU sigap dengan kejadian tersebut hingga tidak menjalar ke sejumlah pompa lainnya dari 6 stasiun BBM yang ada.
“Kalau saja petugas SPBU Mulawarman ini tidak sigap, dimungkinkan SPBU itu ludes kalau apinya sudah merambat ke tangki penimbunan BBM,” kata dia.
Untuk itu, dia meminta kepada seluruh operator SPBU agar lebih mengintensifkan tata tertib keamanan yang berlaku di area SPBU.
Terutama, setiap kendaraan baik roda maupun roda empat yang hendak melakukan pengisian diingatkan untuk mematikan mesin kendaraannya. “Termasuk, telepon genggam harus dinonaktifkan ketika berada di area SPBU,” tegas Edwin.
Terkait distribusi BBM untuk SPBU Mulawarman, mulai hari ini akan kembali normal dengan alokasi 30 ton untuk premium, dan 38 ton untuk solar. Bercermin dari kejadian ini, pihaknya berharap dapat menjadi suatu pelajaran bagi seluruh masyarakat Tarakan akan tata tertib yang berlaku di SPBU.
“Selama ini rambu-rambu safety-nya sudah jelas, tapi terkadang teguran dari operator kepada operator selalu dimentahkan masyarakat,” bebernya.
Edwin, menambahkan dari 6 Agen Premium Minyak dan Solar (APMS) yang ada di Tarakan, satu diantaranya kini tengah diwacanakan untuk dijadikan SPBU.
“Kalau untuk menambah SPBU lagi, tidak. Tapi meningkatkan status APMS menjadi SPBU, itu kemungkinan besar bisa,” katanya. APMS yang akan ditingkatkan menjadi SPBU yaitu salah satu APMS yang terletak di Tarakan Utara.
“Dari 2 APMS yang ada di utara itu sampai saat ini belum kita pastikan karena masih evaluasi. Ini baru wacana internal saja, karena mengingat tingkat pemakaian BBM dan jumlah kendaraan semakin meningkat. Syaratnya tak jauh beda dengan SPBU. Hanya baik dari segi sarana fasilitas, pelayanan dan lebih diperketat,” terang Edwin.
Sementara, Mustafa, karyawan SPBU yang dilarikan ke Pertamedika Hospital Tarakan karena mengalami gangguan pernapasan akibat menghirup Asap Kebakaran dan Zat Apar (Alat pemadam api ringan) setelah mendapat tindakan medis di ruang unit gawat darurat dan dinyatakan kondisinya sudah membaik diperkenankan pulang oleh dokter rumah sakit tersebut.
“Pasien sempat diinfus sebanyak satu kantong sebelum diperbolehkan pulang oleh dokter yang jaga kemarin,” kata dokter Sapta Yudha Oka, dokter yang berdinas di Unit Gawat Darurat PHT kemarin. (radartarakan)